April 2008, Sby
Tak kenal maka tak sayang. Ini aku, seorang manusia biasa yang hanya ingin dikenal dan mengenal orang lain..... Sebentar membaca, pasti bisa tau bagaimana, siapa, apa, dimana, kapan dan mengapa saya seperti ini....... hohohohohohohoho
Tuesday, March 12, 2019
PANGGILAN MENJADI “TERANG”
April 2008, Sby
ADVEN DAN RELEVANSINYA DENGAN GLOBAL WARMING
November 2007, Sby
Advent
Sebentar lagi kita sebagai umat katolik akan memasuki masa advent, masa dimana kita diajak untuk menanti kelahiran Yesus Kristusa dalam peristiwa Natal dan juga menantikan kedatangan Yesus yang kedua kalinya, dalam arti ini menantikan hari akhir. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa masa advent ini adalah masa awal tahun liturgi gereja (tahun baru liturgi gereja katolik), yang mana ada 4 minggu dan ditandai dengan roda/ corona Advent yang dihiasi dengan daun cemara dan diatasnya diletakkan 4 lilin lambang kehadiran Sang Terang.
Global Warming (Pemanasan Global)
Beberapa minggu belakangan ini banyak media massa yang memberi liputan tentang Global Warming atau pemanasan global. Apa sich Global warming itu? Sehingga banyak orang di dunia ini merasa sangat penting utuk dibahas. Perlu kita ketahui bahwa Global Warming (GW, Red) adalah suatu peristiwa dimana suhu bumi menjadi lebih panas dari biasanya dan menyebabkan kekacauan fenomena alam di Bumi. Coba saja kita bandingkan cuaca pada saat ini dengan 5-8 tahun yang lalu, dulu musim penghujan ataupun musim kemarau dapat diprediksikan dalam hitungan bulan, sedangkan sekarang hal itu tidak bisa diprediksikan, kecenderungan musim kemarau terasa lebih lama dan panas sinar matahari sangat menyengat kulit. Selain itu panasnya suhu bumi yang meningkat tajam ini menyebabkan beberapa hutan di Saradan, Madiun dan Kalimantan mengalami kebakaran karena titik api semakin banyak dan sulit dipadamkan.
Peningkatan suhu ini diakibatkan oleh “efek rumah kaca”, maksudnya panas sinar matahari tertahan oleh gas karbon monoksida yang melingkari bumi ini. Alhasil, sinar matahari yang harusnya keluar dari bumi ini tertahan oleh gas-gas tersebut dan kembali lagi ke bumi yang menyebabkan meningkatnya suhu di bumi.
Peningkatan suhu inilah yang menyebabkan kekacauan alam seperti yang sering kita jumpai dalam media masaa, misalnya banjir besar di India dan Cina, badai Katrina yang terjadi pada 29 Agustus 2005 di AS, penguapan tanah yang menyebabkan tanah retak, dan yang paling fatal adalah melelehnya es di kutub, hal tersebut cukup berbahaya karena akan banyak pulau-pulau kecil yang tenggelam. Dalam film dokumenter “Al Gore: An Inconvenient Truth” penasehat Tony Blair, Perdana Mentri Inggris mengatakan seluruh dunia akan tenggelam jika Greenland atau ½ Antartika barat mencair, akibatnya Florida, San Fransisco, Belanda, Beijing, Shanghai, Calcuta, New Orleans, dan gedung (bekas) WTC akan berada di bawah air, beberapa pulau kecil akan tenggelam. Hal tersebut karena dampak dari GW yang sudah stadium empat/ akhir.
Relevansi
Advent adalah masa dimana kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, kapan itu??? Saat-saat yang tidak bisa diprediksikan, tetapi Tuhan sendiri mengajak kita untuk dapat melihat tanda-tanda jaman, bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Dalam peristiwa GW ini manusia disibukkan untuk mencoba mengembalikan keadaan alam yang dulunya indah, tenang, damai, air yang jernih, cuaca dan suhu yang sejuk, serta bersihnya udara dari polusi.
Dalam peziarahan di dunia ini kita hanya diberi tenggat waktu 70 tahun dan 80 jika kuat (Mzm 90: 10a), dalam masa waktu itu kita diberi mandat oleh Tuhan untuk memenuhi bumi dan menaklukkan itu, berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi (Kej 1: 28b) kiranya tugas dari Tuhan ini tidak disalah artikan untuk merusak alam dan menguasai sumber daya alam yang tersimpan dengan serakah. Maksud Tuhan memberikan mandat itu adalah semata-mata untuk menjaga kelangsungan hidup semua makhluk yang ada di bumi ini, supaya kehidupan di bumi ini tercipta suasana seperti yang digambarkan oleh Nabi Yesaya (11: 6-9), menciptakan suasana yang asri, nyaman dengan memanfaatkan dan memelihara lingkungan hidup.
Munculnya issu GW ini adalah karena ulah manusia sendiri, yang maunya menang sendiri dalam mengeruk sumber daya alam secara berlebihan. Apa yang mesti kita lakukan??? Kita harus punya keinginan untuk berubah, kita buat perubahan besar bagi dunia dengan melakukan hal-hal kecil di sekitar kita. Gereja Katolik Indonesia juga peduli dengan keadaan ini, dalam nota pastoral KWI 2004 salah satunya berisi tentang “kepedulian terhadap lingkungan”, KWI berharap agar seluruh umat katolik di Indonesia membantu kelestarian lingkungan hidup. Apalagi visi paroki ini untuk menjadikan Gereja yang ramah lingkungan, bukan hanya semata berhubungan dengan alam saja, melainkan juga dengan masyarakat sekitar.
Beberapa hal kecil yang perlu kita lakukan adalah dengan tidak membuang sampah di sembarang tempat/ selokan, membuat penghijauan ditaman rumah supaya udara menjadi lebih sejuk dan segar, mengurangi penggunaan AC yang notabene penyumbang gas pembuat “efek rumah kaca” terbesar, dan beberapa hal lain yang ada disekitar kita.
Ulasan ini bukan untuk menggurui tetapi untuk memberi ulasan-ulasan mengenai issu yang mulai memanas, dan ini memang sudah bukan issu lagi melainkan keprihatinan dunia, terlebih hal tersebut dilontarkan oleh Mr. Al Gore, salah satu kandidat calon presiden AS yang kemudian kalah suara dari presiden Bush sekarang. Bila tidak ada perubahan mendasar, seperti yang dipresentasikannya, tidak bisa disangkal lagi kalau ½ dari antartika barat akan mencair dan hal tersebut berbahaya bagi beberapa kota dan pulau yang tersebut di atas tadi. Maka dari itu, mulai sekarang, secara khusus dalam masa advent ini kita menyiapkan hati yang baru untuk menyambut kedatangan Tuhan, baik dalam perayaan Natal atau dalam menunggu kedatangan-Nya yang kedua, entah kapan itu....... menyiapkan hati yang baru juga bisa berarti kita mempunyai kebiasaan baru yang dapat mendukung nota pastoral KWI 2004 tentang melestarikan lingkungan hidup. Semoga kita semua mempunyai niat baik supaya keberadaan kita di bumi ini tetap hidup tanpa ada ancaman akan tenggelam.
SEMINARIS BOLEH MEMBAWA HP DI SEMINARI???????
Sebagai satu-satunya Seminari Menengah milik Keuskupan sendiri, sudah layak dan sepantasnya kalau kita memberi perhatian yang lebih pada Seminari Garum (Se-Gar) ini. Dalam perkembangan 3 tahun terakhir (2004) jumlah seminaris terus menurun sampai tahun ini, ada apa dengan ini? Apa karena tidak sesuai lagi dengan semangat kaum muda jaman ini, yang seiring sejalan dengan perkembangan teknologi dan bermacam-macam trend? Atau karena di dalam seminari, yang juga merupakan asrama ini, tidak boleh membawa HP? Apa karena semangat kesederhanaan sudah tidak diminati oleh kaum muda di jaman globalisasi sekarang? Atau sosialisasi yang kurang tentang Se-Gar belum tersebar secara menyeluruh?
Bila kita kaji lagi, profil seminaris (lulusan) yang diharapkan adalah menjadi pribadi yang integral (utuh), belajar peduli dengan siapa dan apapun, belajar menghargai orang lain, dan dapat membangun sikap hidup sederhana karena Tuhan mencintai orang yang berhati sederhana, polos, jujur (Bdk. ‘Cum simplicibus sermocinatio eius’ (Ams. 3:32) (= Allah bergaul erat dengan orang jujur) - ‘Confiteor tibi, Pater, quia abscondisti haec a sapientibus et prudentibus et revelasti ea parvulis’ (Mt. 11:25), dan dalam Mazmur (116:6) dikatakan bahwa TUHAN memelihara orang-orang sederhana). Maka, kurang tepatlah kalau seminaris boleh membawa HP di dalam komunitas (seminari) karena itu tidak mencerminkan sikap hidup sederhana, apa adanya. Ada beberapa hal mengapa tidak diperbolehkan membawa HP. Pertama, karena tidak semua seminaris berasal dari keluarga yang mampu sehingga nanti muncul kesenjangan sosial, ada rasa iri hati atau minder. Kedua, dengan membawa HP membuat tidak fokus ke tugasnya sebagai seminaris, yakni belajar dan mengolah hidup panggilan, karena tiap harinya hanya berpikir untuk bermain HP atau sekedar ngirim-ngirim SMS. Ketiga, seminaris mempunyai waktu-waktu khusus untuk berinteraksi dengan orang tua atau teman-teman di luar seminari lewat jam bebas luar (jam dimana seminaris boleh keluar area seminari yang sifatnya rekreatif, biasanya hari sabtu (14.00-16.30) dan minggu (10.00-13.00) atau hari lain yang jadwalnya sudah diatur oleh staf formator) maka tidak tepat kalau ada yang membawa HP, apapun alasannya. Sanksi yang dikenakan terhitung sebagai sanksi sangat berat.
Seminaris sebagai calon imam tidak ketinggalan jaman seperti pandangan banyak orang, di dalam seminari juga masih dapat mengikuti trend yang ada di luar. Musik-musiknya up to date, film-film yang diputar di bioskop pun dapat dinikmati di seminari. Sarana komputer juga mendukung kegiatan seminaris dalam kefungsionarisan, dan salah bila Se-Gar hanya dilihat dari luarnya saja; sederhana, polos, ndheso, kathrok atau istilahnya, don’t judge the book from the cover, tapi coba lihat ke dalam dan nikmati suasana kebersamaannya. Semua teknologi tersebut merupakan sarana untuk mendukung seminaris supaya melakukan tugasnya dengan baik dan tetap memelihara sikap hidup sederhana. Trend sikap hidup sederhana (termasuk jujur) kapanpun dan dimanapun masih diperlukan, Yesus sendiri mengajak kita untuk menjadi sederhana, polos seperti seorang anak kecil.
Di sisi lain supaya jumlah seminaris bertambah banyak adalah dengan adanya publikasi/ sosialisasi (bisa berupa poster atau brosur). Banyak kaum muda katolik yang kurang tahu kapan dibukanya pendaftaran untuk menjadi Seminaris, dan kepada siapa akan bertanya. Dari sini perlunya publikasi/ sosialisasi pada umat bahwa untuk lebih lanjutnya silahkan bertanya ke pastor paroki masing-masing, selain itu perlu juga ditanamkan bahwa seminari adalah sekolah khusus untuk (siswa) cowok katolik yang berkeinginan untuk menjadi pemimpin, pemimpin ini tak lain adalah pemimpin Gereja, meskipun kenyataannya tidak semua seminaris menjadi Imam nantinya.
Masuk menjadi seminaris adalah merupakan panggilan dari pilihan hidup untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik, kaum muda sedikit yang memilih masuk seminari karena hanya dilihat dari satu sisi saja, sedangkan ada banyak sisi lain yang lebih menarik dengan masuk menjadi seminaris. 2000 tahun yang lalu Yesus berkata pada para murid “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Bdk. Mat 9:37-38). Di jaman ini tuaian semakin banyak; orang-orang lelah, miskin, terlantar, orang-orang patah semangat, butuh sahabat. Di jaman ini pula semakin banyak orang merindukan damai dan cerahnya masa depan, semakin banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Kata-kata Yesus ini masih tetap berkumandang menanti para pekerja bagi tuaian di masa depan, kata-kata ini setiap saat menantikan jawaban. Kata-kata inilah yang akan menggerakkan kaum muda untuk mau dan berani bekerja di ladang-Nya, Seminari Garum adalah salah satu tempat pembinaannya (selain novisiat/ postulat). Masih adakah kaum muda, para remaja yang tergerak hatinya untuk menjawab panggilan Yesus bekerja di ladang tuaian-Nya? Tidak tergerakkah anda untuk mengikutinya????
(I Samuel 15:19)
Friday, January 15, 2016
Hidup lagi
Tuesday, April 6, 2010
Februari 2010
-->
Thursday, April 3, 2008
Akhirnya........Fuuuhhhhh........
Tapi kali ini akan saya bagikan beberapa tulisan-tulisan saya (artikellah...... bisa dibilang begitu) yang sempat atau tidak termuat di salah satu tabloid rohani, berikut beberapa artikel tulisan saya:
Ngungsi...... Ngungsi....... Ngungsi.......
April 2007, Sby.
Sudah sekitar 2,5 minggu warga ibu kota terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, memang harta benda tidak sempat diselamatkan tetapi yang penting tidak memakan banyak korban jiwa. Dari berbagai bencana di awal tahun 2007; tentang hilangnya KMP Senopati Nusantara, hilangnya pesawat Adam Air, anjloknya KA Bengawan, tergelincirnya pesawat Adam Air (sehingga terpaksa mendarat di bandara Juanda-Surabaya), angin puting beliung yang memporak-porandakan kota Yogya, Gempa di daerah ambon, Lumpur Lapindo yang belum teratasi sampai sekarang, terbakar dan tenggelamnya KMP Levina I, longsor di lereng Wilis dan banjir yang melanda beberapa kota di Indonesia. Tuhan mau mengatakan apa pada kita??
Lalu, bencana-bencana diatas termasuk banjir Jakarta apakah mempunyai arti tersendiri bagi kita? Itu semua anugerah, atau peringatan dari Tuhan? Dalam perjanjian lama, Tuhan memperingatkan Firaun dengan memberi sepuluh tulah, maksudnya supaya Firaun percaya pada Tuhan lewat tangan Musa tetapi Firaun tetap bebal hatinya, ia tidak mau mengindahkan peringatan Tuhan yang disampaikan Musa, ia tetap tidak percaya dan tidak mau bertobat. Dan pada jaman Nuh, Tuhan memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa karena dosa yang telah manusia perbuat. Tetapi Tuhan mengadakan perjanjian dengan Nuh dan keluarganya, dan inilah janji-Nya "...... Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi” (Kej 9:11) dan inilah tandanya bahwa Tuhan tidak akan mendatangkan air bah “Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.” (Kej 9:13). Jadi, Tuhan tidak akan mengirimkan lagi air bah, maka kurang tepat kalau kita menyebut banjir sebagai air bah! Tuhan senantiasa melindungi dan menyertai kita, Ia ingat dan menepati janji-janji-Nya, seperti yang tertulis pada kitab Yesaya (54:9) “.........Keadaan ini bagi-Ku seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi”. Banjir juga salah satu anugerah dari Tuhan, kita diberi banyak air yang melimpah dan kita diajak untuk kembali peka dengan lingkungan sekitar, ada banyak hikmah dibalik kejadian ini semua.
Bila kita kaji lebih dalam lagi tentang unsur yang terkandung di dalam air, air mempunyai 2 unsur yang tidak mungkin bisa hilang. Pertama, air yang membersihkan. Biasanya, kita menggunakan air untuk mandi atau mencuci pakaian, air dalam arti luas untuk membersihkan yang kotor menjadi bersih. Dalam pembaptisan kita juga menggunakan air sebagai materia babtis simbol pemurnian diri kita untuk hidup baru dalam Kristus. Kedua, air yang memusnahkan. Contohnya tidak jauh-jauh, bencana Tsunami yang melanda Aceh beberapa tahun silam. Air laut memusnahkan semua yang dilaluinya; tumbuhan, bangunan bahkan manusia. Begitu juga dengan banjir yang melanda Jakarta, air menghancurkan beberapa rumah di daerah sungai Ciliwung dan beberapa tempat yang lain.
Bencana datang dikarenakan ulah manusia sendiri, banjir datang karena perilaku kita yang kurang peduli dengan lingkungan, contohnya membuang sampah sembarangan tanpa rasa bersalah, tidak adanya program penghijauan (lahan hijau) di kota-kota besar, penebangan hutan secara liar karena keserakahan manusia, dan kurangnya perawatan lahan kota (banyaknya bangunan mall/ ruko). Beberapa hal diatas yang memicu bencana-bencana, karena perilaku kita sendiri! Dari bencana banjir itu kita bisa belajar untuk membangun hubungan sosial dengan sesama ciptaan Tuhan, alam juga adalah ciptaan Tuhan. Seperti pada tema APP 2007 regio I “Pemberdayaan kesejatian hidup dalam membangun hubungan sosial”. Bersosialisasi tidak hanya dengan sesama manusia saja tetapi juga dengan alam dan makhluk hidup lain.
Sebagai umat katolik, kita diberi kesempatan untuk mencoba memperbaiki diri, memperbaiki relasi dengan Tuhan dan sesama lewat masa prapaskah yang diawali dengan menerima abu pada Rabu Abu kemarin. Masa prapaskah adalah masa untuk “balik kanan dan maju jalan, tidak hanya jalan ditempat saja”. Maksudnya, dalam masa ini, kita memasuki Retret Agung selama 40 hari untuk kembali melihat diri dan mencoba memperbaikinya, supaya saat paskah nanti kita dapat hidup baru di dalam Kristus lewat wafat dan kebangkitan-Nya dari alam maut. Dalam masa ini juga, kita diajak untuk introspeksi diri, seberapa baik hubungan sosial kita dengan ciptaan Tuhan; baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.
Tanggal 5 Nanti kita sudah memasuki Tri Hari Paskah, masa yang ditunggu-tunggu selama kurang lebih 40 hari, yang mana Paskah sebagai puncak perayaan iman katolik-hari kebangkitan Tuhan. Bersama Tuhan yang telah disalibkan di Golgota, kita diajak untuk berani menyalibkan diri (dosa-dosa) kita menjadi manusia baru, manusia yang dapat membangun hubungan sosial dengan baik pada siapapun juga. Paskah dalam bahasa Yunani berarti Tuhan lewat (pesah), mari bersama Kristus kita lewatkan (tinggalkan) perbuatan-perbuatan buruk kita untuk menjadi manusia baru di dalam-Nya. Semoga bencana yang telah terjadi dapat membuat kita sadar akan kekuatan Tuhan, menyadari peringatan-peringatan Tuhan dan mengupayakan untuk hidup baru di dalam Dia karena kita “….. telah ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (Bdk. I Petrus I:18-19).
Thursday, March 6, 2008
APA ITU PANGGILAN?
APA ITU PANGGILAN? Dalam bahasa Inggris panggilan disebut 'vocation'. Vocation berasal dari kata Latin 'vocare' yang artinya 'memanggil'. Tuhan memanggil kita semua untuk ambil bagian dalam pelayanan Kristiani, tetapi Tuhan memanggil sebagian dari kita untuk mengabdikan diri secara istimewa sebagai imam, biarawati dan anggota Ordo atau Tarekat Religius.
Tuesday, February 26, 2008
My Reflection
Itulah motto yang kupilih sampai sekarang karena saya merasakan Cinta Tuhan pada diriku, Dia melindungi aku dari bahaya dan Ia yang menopang langkahku tatkala aku mulai goyah dan lesu. Dengan apa harus kubalas kebaikan Tuhan yang kurasa sangat besar itu????
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa. (Mzm 23:6)
Ya, saya ingin membalas cinta Tuhan yang selama ini kurasakan dalam hidupku dengan memberikan diriku seutuhnya untuk Tuhan, dengan jalan menjadi imam Diosis di Keuskupan Surabaya. Dengan segala rendah hati saya ingin melayani Tuhan dan meskipun dalam pelayanan itu nantinya akan banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan tetapi saya tidak akan mundur untuk menjadi seorang pelayan Tuhan yang baik (Bdk. Kis 20:19)
Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. (Ay 42 : 2)
Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (Kis 18 : 9)
Tuhan, aku tahu bahwa Engkau telah mengatur semuanya untuk aku. Banyak hal yang tidak kumengerti dan hanya Engkau yang mengetahuinya, bimbinglah dan tunjukkan jalan yang terbaik bagiku. Tuhan, dengarkanlah seruanku. Amin.
TUHAN, AKU TIDAK TAKUT
KARENA ENGKAU ADA DI SAMPINGKU!!!!